Bekerja di musim-musim tanpa nama, karena memang sekarang sedang beken dalam perubahan musim yang setidaknya sedikit mempengaruhi pendapatan manusia-manusia tani.  Ladang-ladang pengirikan dipenuhi dengan beragam tanaman multikultura, setidaknya bumi ini dipenuhi dengan kasih karunia sang Khalik. Berbekal ketrampilan yang cukup sederhana, ia pergi meladang. Hampir setengah hari dari waktunya tiap tiap hari dihabiskan dengan berladang. Sementara banyak orang bekerja  dengan keringat ketidakjujuran sedang menghadapi putusan hakim di pengadilan pusat. Tidak mau diresahkan dengan practice high politic, manusia-manusia tani berpikir sederhana mengenai kearifan ladang yang selalu akan dituai jika musim menuai tiba.

Manusia-manusia tani ini tidak pernah capek berpikir mengenai kelonggaran penegakan hukum sipil-militer, pemberantasan koruptor, bahkan sampai juga kepada menurunnya semangat diplomasi Indonesia. Toh, itu semua tidak membuatnya mendapatkan penghasilan tambahan dengan hanya memikirkan hal-hal yang seyogyanya hanya bagi mereka yang didaulat oleh rakyat untuk perduli dengan permasalahan semacam itu.

Sekarang kegembiraannya hanya sebatas forum-forum cukup resmi seperti koperasi desa untuk menyalurkan padi hasil panen atau bahkan jika beruntung hasil-hasil kebunnya bisa disalurkan ke pasar tradisional.  Cukup senang dengan kehidupan yang sederhana yang baginya cukup.Jika melihat bentuk tatananan sosial kemasyarakatan saat ini, tentu banyak koridor-koridor ketimpangan terjadi dalam praktek kehidupan berbangsa. Apa yang kita lihat hari ini adalah sebuah ketimpangan yang coba diperbaiki dengan setengah hati melalui “politik tambal sulam”. Padahal “masyarakat masa depan ini dapat diciptakan dengan aksi sosial yang dilakukan secara intersif”.[1], artinya tidak boleh ada sebuah aksi sosial yang dikerjakan dengan setengah gegabah maupun ceroboh. Penting kemudian digaris bawahi bahwa cita cita nasional dan agenda kebangsaan tidak dapat diwujudkan dalam waktu yang  instan. Oleh karenanya semangat pembangunan individu yang berdaya saing dan daya juang merupakan harapan yang ajeg, jika kita ingin melihat Indonesia baru beberapa puluh tahun ke depan. Tantangan sekarang adalah siapa yang mau duduk dan mengusahakan untuk membangun generasi Indonesia masa depan? Ini merupakan pemikiran sangat sederhana mengenai generasi, ditengah deru sikut sikutan politisi, konflik masyarakat, kemerosatan wibawa aparatur negara, serta inkonsistensi pembangunan nasional(kesehatan, pendidikan, hukum).

Telah menjadi hal yang lumrah bahwa lumbung-lumbung tani masyarakat hanya satu dari sekian kotak konflik internal politik yang coba diperdengungkan kembali untuk mencari solusi-solusi alternatif bagi kemajuan Bangsa.  Keengganan “orang-orang besar” untuk berpikir sederhana seperti manusia-manusia tani ini membuat pekerjaan semakin sulit. Teori sosial kritis ini, berkeyakinan bahwa perubahan sosial dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari-hari manusia, misal seksualitas, peran keluarga dan tempat kerja.[2] Kesederhanaan untuk berpikir bahwa keluarga adalah titik awal perubahan merupakan suatu proses ikhwal yang pada hakekatnya harus dipertanggung jawabkan dengan kesadaran penuh (full of consciousness). Peran positif dalam lingkungan terkecil inilah yang justru akan menyatu dalam semangat perubahan yang lebih baik.

Sudah terdesak kita ke pinggir![3] Mungkin maksud ungkapan ini adalah jangan sampai kita terdesak baru kita sadar bahwa kita sudah ke pinggir dan hampir jatuh terperangkap dalam kebutaan moral. Untuk mempelajari kearifan mungkin kita harus merenung sedikit menjauh dari gelombang kekuasaan serta beralih kepada pikiran sederhana manusia2 tani. Mereka yang mencari hasil untuk kebutuhan dan membangun sistem sederhana dari kerja keras dan keringat untuk memetik hasil berkah Sang Khalik, sisa yang lebih dari keuntungan mereka adalah anugerah Tuhan.

[1] Angger,Ben.2007.Teori Sosial Kritis (kritik, penerapan dan implikasinya).Yogyakarta:Kreasi Warna.Hlm:8.

[2] Ibid, hlm 9.

[3] Malaka,Tan.2000. Gerpolek.Yogyakarta; Jendela.

 

# beberapa tulisan di bulan ini  rasanya terlalu serius. Semoga bisa lebih serius lagi^^

 

Advertisements