Just another WordPress.com site

13 Mei 1998

Karena kami makan akar dan terigu menumpuk di gudangmu…karena kami hidup berhimpitan dan ruanganmu berlebihan…maka kita bukan sekutu.

Karena kami kucel dan kamu gemerlapan…karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu…maka kami mencurigaimu.

Karena kami terlantar di jalan dan kamu memiliki semua keteduhan…karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar…maka kami tidak menyukaimu.

Karena kami dibungkam dan kamu nrocos bicara…karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan…maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana…
Karena kami cuma bersandal dan kamu bebas memakai senanapan…
Karena kami harus sopan dan kamu punya penjara…maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu

W.S. Rendra

Advertisements

Kretek yang Asli Indonesia

Ada suatu pencapaian yang sangat menarik ketika bisa berkesempatan untuk mengujungi tempat-tempat yang indah di pulau Jawa. Kebetulan karena saya besar di kota yang jauh dari pulau Jawa jadi saya sangat menikmati setiap perjalanan saya. Waktu itu saya mengikuti bus tujuan Bandung-Yogyakarta dengan tujuan akhir Yogyakarta. Yogya tetap menjadi tempat favorit saya karena saya memang jatuh cinta pada Yogyakarta sedari kecilnya. Bus tujuan saya ini melewati Jawa Tengah dan beberapa orang penumpang turun di kota Semarang.

Kota Semarang tidak begitu bermakna bagi saya karena memang saya memang saya cinta akan Yogyakarta. Hanya beberapa orang sering membicarakan kota Temanggung, saya memang belum pernah kesana tapi kota Temanggung ini ditilik banyak orang sebagai salah satu kota penghasil bahan baku kretek terbaik di Indonesia.

Tembakau Indonesia ini memang unik, rokok dengan campuran bahan tembakau pilihan memang hanya ada di Indonesia. Karena itulah Kretek mendapat tempat tersendiri bagi beberapa orang yang menganggap bahwa Kretek adalah asli warisan budaya Indonesia.

Tidak banyak orang tau, bahwa industri kretek yang sekarang berkembang dan digemari banyak orang. Aslinya berasal dari tangan-tangan petani tembakau lokal di daerah Temanggung, Bojonegoro, Madura, Muntilan dan Mandiun. Ketika tembakau ini dicampur dengan cengkeh maka akan menghasil rasa yang unik. Nah inilah rasa Indonesia. Rasa khas ini berasal ketekunan seorang petani untuk merawat dan memetik selama berbulan-bulan kemudian akan diteliti untuk dipakai adalah tembakau berkualitas. Hasil ini kemudian diolah dengan cengkeh kualitas terbaik, maka jadilah kretek khas Indonesia. Penduduk lokal memang mendapatkan untung yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengusaha besarnya. Tetapi menurut saya, mereka bercerita mengenai Indonesia yang sesungguhnya. Mungkin mereka tidak berpikir jauh mengenai aturan-aturan anti tembakau, pajak yang cukup besar yang dibebankan pemerintah pada industri kretek, sampai pada go internasionalnya produk olahan mereka. Orang-orang sederhana ini memiliki cara pikir sederhana, dengan hidup yang menurut mereka berkah kretek sudah pas lah untuk kebutuhan istri dan anak. Mereka mungkin tidak tau bahwa kretek membawa brand Indonesia.

Jadi sederhananya jika orang menikmati kretek Indonesia, mereka menikmati Indonesia dalam sebatang kretek. Jika melihat dari sejarahnya, tentu sah-sah saja ketika ada pernyataan bahwa kretek dapat menjadi simbol atau icon budaya Indonesia di mancanegara. Semacam Malboro Country versi Amerikanya. Liem Seeng Tee mungkin tidak pernah menduga bahwa, usaha kecil-kecilan di Surabaya itu membawa dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan industri kretek dalam negeri. Ini pun bermula hanya dari rokok klinting tangan yang dijualnya pertama kali di Surabaya.

Liem Seeng Tee telah berhasil dengan Sampoernanya mampu membawa brand Indonesia. Meskipun sejarah awalnya Nitisemito dinilai sebagai penggagas awal rokok  Tjap Bal Tiga yang kerap dikaitkan dengan penemuan  Haji Djamari di awal abad 19. Ada juga salah satu contoh lain yaitu raksasa rokok nasional seperti Djarum. Tidak muluk-muluk memang jika kita mengharapkan pemerintah dapat melihat kebutuhan strategis industri kretek ini, agar kretek dapat menjadi produk asli indonesia atau santer disebut brand. Sumber daya manusia yang memadai, skills, managemen, dan perangkat-perangkat strategis dan teknis lainya harus mendukung berkembang industri kretek. Kretek adalah sebuah produk yang istimewa dan merupakan sebuah brand Indonesia. Namun kretek ini butuh regenerasi, yah sebuah generasi yang dapat membangun brand Kretek ini sampai ke tingkat internasional. Aslinya harusnya Kretek dapat bercerita tentang budaya Indonesia dan orang Indonesia. Bukan tidak mungkin kretek dapat menjadi produk asli Indonesia yang bercerita tentang Indonesia.

Ketika melihat salah satu artikel di VoA yang diberi judul “Pemerintah Masih Pelajari Keputusan WTO Terkait Penjualan Rokok Kretek di AS” di publish pada tanggal 5 september 2011 yang lalu, saya berpikir apakah ini sebuah  keputusan yang sinergis? Lalu,  apa yang terjadi dengan roda ekonomi masyarakat di daerah Temanggung, Muntilan, Madura, Madiun, Kediri dan Bojonegoro  yang menggantungkan soal menyoal kehidupan sehari-hari dari kegiatan bertani tembakau. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa kretek akan memicu anak di bawah umur menjadi perokok, saya rasa ada yang salah dengan cara berpikir seperti ini. Mengapa? Sejak rokok diperkenalkan oleh suku-suku asli Amerika seperti Indian, Maya, dan Aztec kemudian berkembang di awal abad 19 di Indonesia oleh Haji Djamari asal Kudus, tidak dengan tujuan anak di bawah umur menjadi penikmatnya. Ini hanya merupakan sebuah budaya di antara kaum lelaki dewasa sebagai media pendekatan secara sosial.

Oleh karenanya saya pikir tidak ada masalah dengan kretek tapi penanaman pola pikir yang benar kepada anak-anak di bawah umur tersebut. Jadi bukan pula kepada larangan pemberhentian ekspor kretek tapi kepada penanaman nilai dan pesan yang edukatif terhadap anak-anak tersebut oleh orang tua. Jadi saya tidak setuju kalau larangan ini berlaku jika kita menyamakan persepsi WTO bahwa rokok jenis menthol dan kretek sama. Tetapi,  mengapa ada justifikasi tersendiri terhadap brand Indonesia?

Simpulan yang dapat ditarik melalui artikel VoA mengenai peninjauan ulang WTO tentang rokok kretek di AS bukan hanya terkait discriminatory terhadap produk  kretek Indonesia tetapi juga terhadap nama Indonesia. Kedua, pola kebijakan pemerintah AS menitik beratkan kepada posisi tawar (bargaining position) yang lebih kuat di WTO sehingga sifat putusannya menjadi berat sebelah kepada pemerintah AS. Ketiga seharusnya ada semacam research market terhadap pasaran rokok dan penikmat rokok yang beredar di Amerika untuk mengetahui pilihan konsumen, siapa tau pilihan kebanyakan konsumen Amerika jatuh kepada kretek Indonesia dari pada produk asli Amerika. Keempat, diperlukan sebuah dialog yang sinergis mengenai sebuah keputusan yang melibatkan elemen masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini keputusan mengenai pelarangan penjualan rokok kretek di AS karena bukan hanya masyarakat Amerika yang rugi, tetapi ratusan ribu petani tembakau Indonesia juga terkena dampak tersebut.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.